kirana



        Dan kemudian, kopi didalam cangkir itu tandas. Mengalir melalui tenggorokanmu, tapi matamu masih menerawang jauh entah ada dimana. "aku lelah tyo" tiba tiba saja kalimat itu meluncur dari bibirmu yang tipis. Aku mencoba mendengarkan, meski kadang bingung apa yang harus ku katakan. 
         
"udah coba kamu kontak lagi?" ujarku pelan, hanya mencoba untuk memberikan jawaban dari kalimatmu yang terucap barusan.

"biar saja, aku sudah tidak peduli" ujarmu ketus, kemudian kau menyandarkan kepalamu sambil menatap langit langit cafe dengan mata masih menerawang

Aku seperti kehabisan kata kata untuk menenangkanmu, sesaat kemudian kau membetulkan posisi dudukmu dan menatapku. terlihat dalam matamu ada banyak pertanyaan yang seolah akan melompat keluar menerkanku. hujan kian deras, butirnya menghujam dengan cepatnya ke permukaan bumi.

"apa laki laki itu semuanya brengsek ya?" tanyamu pelan

"mungkin" jawabku singkat "yah, ga semuanya sih" aku mencoba menambahkan

Dan kemudian kau tertawa, cukup keras sehingga beberapa orang dalam cafe sempat menoleh ke arahmu. 

"ups, maaf..." ujarmu sambil menutup mulutmu, dan kaupun masih berusaha untuk menahan tawamu.

Rasanya aku ingin mengatakan hal yang sama padamu, apa semua perempuan itu baik? ah, entahlah apakah kau akan menerima perkataan itu. 

"ya, aku yakin akan ada seseorang yang baik untukku, yang meu mengerti perasaanku. aku..." tiba tiba kau menghentikan kalimatmu. kembali menerawang dan entah kenapa butiran butiran air matamu mulai menetes membuat sebuah alur dipipimu.

"entah mungkin esok atau lusa, Tuhan pasti akan mengirimkan seseorang untukku. mungkin yang terbaik yang Dia miliki" kemudian kau tersenyum simpul.

Aku masih terdiam, mendengarkan kau menyelesaikan kata-katamu. sesekali kau menangis, sesekali kau tertawa. dan aku hanya bisa mendengarkan sambil menikmati kopi yang ada di depanku. Hujan masih mengalunkan nadanya, seolah menari di atap teras cafe yang kami kunjungi sore itu. 

Kau menarik nafas panjang, tersenyum sambil meliriku pelan

"terima kasih tyo, terima kasih sudah mendengarkan keluh kesahku, terima kasih sudah menemaniku saat aku jatuh. Dan aku yakin esok akan ada seseorang yang akan selalu mengerti tentang aku" jawabmu singkat, sedetik kemudian kau berdiri dan berpamitan padaku. mengenakan jaketmu dan kemudian berlalu kehalaman cafe.

Hujan sudah berhenti menyapa bumi, berganti dengan bau tanah basah

Segera kuhabiskan kopiku, kulihat kau melambaikan tanganmu dari dalam mobilmu, aku membalas lambaian tanganmu, dan kaupun bergegas pergi. dalam kekesalan yang ada aku hanya bisa berkata lirih "kirana, kau anggap apa aku ini".....

      

Komentar

  1. Alur cerita sih okelah... catatan aja untuk lebih memperhatikan kaidah penulisan huruf kapital maupun penulisan kata depan vs awalan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer