Di ujung masa SMA
Bel siang itu berbunyi, tanda akhir
dari sekolah. Murid murid kelas XII mulai ramai meninggalkan ruang ujian,
bergegas pulang atau entah pergi kemana. Seminggu sudah kami menjalani masa
masa Ujian akhir Sekolah. Riuh rendah suara mereka terdengar, aku berjalan
sendiri menyusuri lapangan olahraga yang mengantarku ke gerbang sekolah.
"NGGRA!...ANGGRAA!...OOOY...."sebuah suara memanggilku dari jauh. Aku
menghentikan langkahku dan menoleh, kulihat ahmad berlari mengejarku. Ahmad
adalah sahabatku sejak kecil, entah kenapa semenjak SD kami sering satu sekolah.
"Ada apa sih mat? teriak teriak segala?" seruku heran. "….Aah ….kamunya
….jalan kecepetan….akukan susah ngejarnya" jawabnya dengan nafas agak
tersengal.
"Lalu, ada apa?
sampe lari kayak kesurupan gitu..." jawabku masih dengan tanda tanya
"Ini niiiih....alhamdulilah. Akhirnya aku lolos nggra" kata ahmad
dengan penuh semangat sambil memperlihatkan selembar kertas. "Lulus? lulus
kemana?" tanyaku makin bingung. "Ya lulus keterima kuliah di ITB,
ANGGRAAAENIIIIIIII....aku kan ngajuin tes minat dan bakat bulan lalu"
jawabnya dengan kesal "Kok ga mudeng sih kamu?" dan aku baru
menyadari arti dari diterima itu "Oh" jawabku singkat.
"Kamu kenapa?" tiba
tiba Ahmad bertanya "Nggak..nggak apa apa" jawabku singkat. "Lah,
kok nangis?" ujarnya dengan wajah heran. Entah kenapa, tiba tiba dadaku
terasa sesak, dan mataku basah. Berbalik, sekuat tenaga aku menahan tangis. Tanpa
sadar Aku Mempercepat langkah nyaris
berlari, meninggalkan Ahmad yang masih kebingungan melihat tingkah lakuku.
"Anggra...ANGGRAAAA....ANGGRAENI!??" dia terus memanggilku tapi aku
tak mau mendengarnya dan terus berlari pulang meninggalkan ahmad yang kebingungan.
Malamnya aku tak bisa memejamkan mata,
masih memikirkan kejadian tadi siang. Harusnya aku bisa ikut berbahagia ahmad
bisa meraih impiannya. Tapi, kenapa aku malah tak bisa menerima kenyataan ini.
Apa karena harus berpisah dengannya? dia sahabatku sejak kecil lantas apa yang
mengganguku? ataukah jangan jangan aku.... "Ah nggak, ga gitu kok"
ucapku dalam hati.
Mencoba menjauhkan
sebuah pikiran dalam kepalaku dan juga sebuah rasa dalam hatiku. Sebuah nada
dering berbunyi, sebuah pesan singkat masuk dalam Handphoneku. "Nggra,
kamu kenapa?" sebuah pesan singkat dari ahmad yang sepertinya masih
bingung dengan kelakuanku tadi siang. " Ga apa apa" jawabku singkat
"Kok kamu tadi nangis? apa kamu ga suka aku kuliah di Bandung?" dia
kembali bertanya. "Suka maat..aku sukaaa... aku bersyukur kok kamu
keterima jalur tes minat dan bakat itu" jawabku sedikit kesal.
"Trus kenapa kamu nangis?" kembali pertanyaan itu tak bisa
ku jawab. aku hanya bisa kembali menangis. "Aku cuma pengen deket sama
kamu mat..." lirihku pelan.
Kemudian setelah
kelulusan, saat acara perpisahan sekolah ahmad memanggilku. "Nggra… anggra...
ntar sore bisa ketemu ga?" Ujarnya antusias "ketemu dimana?"ujarku
sekenanya "Biasalah di pematang sawah sana. Bisa ya? penting nih"
"Yah, liat nanti sore ya mat" jawabku agak malas
Sore
itu, entah kenapa aku malas untuk pergi kesana. "Ngapain?" pikirku
singkat sebuah pesan masuk "Nggra dimana?" aku terdiam tak membalas
pesan itu. Tapi pesan kedua muncul "kamu dirumah? aku kesana ya?"ujarnya
singkat "Nganter ibu Mat"
jawabku pelan "Owh ya udah, Minggu depan aku berangkat ke Bandung, mau
pamitan sama kamu" balasnya. “Pamitan aja pake acara ketemu disawah mat...”seruku
dalam hati sambil menutup handphone ku.
"Nggra, akhir akhir ini kamu susah di temuin, aku besok pergi ke Bandung. Aku pamitan ya" sebuah pesan singkat dari
ahmad. "Pergilah mat, pergilah kejar impianmu" kataku dalam hati,
"Tapi jangan lupakan aku." lirih aku berkata dalam hati.
Jam 10 Pagi
aku masih gelisah, hari ini hari keberangkatan. berbagai rasa berkecamuk dalam
hatiku. Pergi atau tinggal dan menyesal? kegelisahan ini makin memuncak saat
pesan kecil masuk "Aku udah siap siap nih" akhirnya kata hati ini
mengalahkan egoku. aku berlari ke arah rumah ahmad, dan aku lihat kamu sedang
bersiap siap untuk pergi "AMAAAT!" aku berteriak, kamu menoleh dengan
terkejut melihatku berlari. "Nggra??....ngapain kamu?" dengan napas
tersengal aku terdiam sejenak, memandang wajahmu dan tiba tiba mataku sembab.
"Mat, aku...." tiba tiba kau terdiam tak bisa berbicara. "Kamu
kenapa sih nggra?" ahmad mencoba menerka nerka.
Konyolnya aku
cuma bisa menangis, dan itu membuat ahmad makin bingung. "Sebetulnya… aku
ga mau kamu ke Bandung... tapi aku juga ga mau menghalangi cita citamu
mat" ujarku pelan. "Ah kamu ini ya" ahmad tersenyum. "Kan
aku ga lama kuliah di bandung, kalo liburan juga aku pulang kok" ujarnya
pelan.
"iyaa... tapi.."
aku kembali tak bisa meneruskan kata kataku. "Iya anggra ku juga ngerti.
kamu juga kejar impianmu disini. nanti kalo aku sudah selesai dengan kuliahku
aku pasti balik lagi kesini" ujarnya sambil tersenyum "janji ya"
kataku sambil mengusap air mataku " iya aku janji" “awas kalo kamu
bohong" jawabku "iya anggra iyaaa" jawab ahmad sambil tersenyum.
"nah aku pamit ya! jangan nangis!" kata ahmad sedikit berteriak.
"eh bentar" tiba tiba dia mendekat "aku mau tanya...itu...anu...euuuh....”
"apa sih? nggak jelas?" tanyaku “gini....anggra, kalo aku nanti
selesai dengan kuliahku. dan setelah aku mendapatkan pekerjaan. apa kamu mau
memberikan setengah hidupmu untukku?" tanya dia dengan serius. "KAMU
BODOH! jangankan setengah, semuanya aku berikan" ujarku dengan nada
sedikit emosi. lama kami diam saling bertatapan, dan akhirnya kami tertawa
bersama sama. "ya sudah, aku pergi ya...tunggu aku yaa!" ujarnya
sambil berlari masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya. "IYA MAAAAAT!"
jawabku dengan senyum.
Siang itu malang terasa
hangat, aku masih berdiri mengiringi kepergiannya menyusul impiannya untuk masa
depannya, masa depan kami. Kuharap demikian...
Komentar
Posting Komentar