MIA
"Mia, aku mau bicara sore ini, bisa aku ketemu kamu?" entah sudah berapa kali kamu mengirim pesan ini padaku, tapi aku tak bisa menjawabnya. "Untuk apa Arya?" tanyaku dalam hati. tak cukupkah kau robek rasa ini?
Hujan di penghujung sore ini menghantarkanku pada remang senja saat kita pertama kali bertemu. Disana, di sudut cafe itu aku melihatmu. Menanti dia yang kau cintai, namun pada akhirnya dia menghempaskanmu begitu saja tanpa kejelasan, tanpa alasan. meninggalkanmu dalam relung kosong yang dalam. Dan entah kenapa disaat yang bersamaan akupun kehilangan cinta, cinta yang direbut oleh kematian. Cinta yang tak bisa lagi aku raih.
Secangkir Kopi pada akhirnya mempertemukan kita, obrolan demi obrolan mengalir bagaikan sungai yang tenang. Apakah ini takdir Tuhan? jika ya, mengapa kita tak bisa bersama? setiap malam aku mencoba mereka wajahmu dalam kotak hatiku. sebuah perasaan yang merobek sebuah rasa dalam relung hatiku. semakin aku mencoba mereka wajahmu senyum Resha semakin jelas terlihat. mungkin aku masih menyimpannya dalam setiap memoriku, dalam relung bawah sadarku. Resha, Reshaku yang direnggut paksa dariku oleh kematian, oleh rasa sakit, dan mungkin....oleh Tuhan.
Lama kita saling mengenal, mencoba memahami satu sama lain, belajar saling terbuka setelah tertoreh luka yang menganga dalam lubuk hati kita. ketika langkah demi langkah kita susun untuk mengejar sebuah impian baru, disaat itu pula bayang Resha Seolah tak mau pergi. dan lagi dia yang telah mencampakkanmu datang dan berharap masih bisa untuk kembali menapaki jalan dalam lubuk hatimu.
"Aku tak tahu Mia, aku belum menentukan jalanku" ujarmu pelan. Aku tahu dia juga masih ada dalam hatimu Arya, sama sepertiku yang masih menyimpan kenangan Resha. Meski kita ingin membangun harapan baru namun kita tak mampu keluar dari kotak kaca yang indah ini. "Mia, jika Resha masih ada, manakah yang akan kau pilih? dia atau aku" sebuah pertanyaan yang entah kenapa menghujam dadaku. aku tahu kau ingin memastikan isi hatiku, tapi kamu sudah keterlaluan Arya. Aku mengambil tas dan jaketku, melangkah dengan tergesa dengan meninggalkanmu yang berkali kali memanggilku. "MIA......MIA.....MIA..MIA...sorry, aku gak maksud, MIA..Denger dulu aku" kau berusaha mengejarku dan menjelaskan maksudmu, namun aku sudah terlanjur tenggelam dalam air mata. Aku hanya bisa mempercepat langkahku meningglakanmu yang sedang menyesali yang sudah terjadi.
Satu bulan berlalu, berpuluh puluh pesan dan surat elektronik darimu mengisi keseharianmu. ucapan permohonan maaf darimu tak bisa aku jawab. "maafkan aku arya, kau laki laki yang baik....tapi Resha masih hidup dalam jiwaku."
"Mia, aku mau bicara sore ini, bisa aku ketemu kamu?" entah sudah
berapa kali kamu mengirim pesan ini padaku, tapi aku tak bisa
menjawabnya. "Untuk apa Arya?" tanyaku dalam hati.esok adalah hari bahagiamu, untuk apa kau bertemu denganku? cukup arya, bahagiakan ia yang menyerahkan hidupnya untukmu. jangan kau temui aku lagi. Mungkin ini salah tapi biarkan aku dengan Resha.... Reshaku...... sambutlah hidup barumu. Maafkan aku yang tak bisa menitipkan hati dan cintaku padamu. karena ada cinta yang lain dibalik kehidupan kita.
Arya, kita adalah insan yang saling mendoakan, tapi Tuhan tak mempertemukan kita Arya, karena dia telah menuntun kita pada dua jalan yang berbeda.
Komentar
Posting Komentar